Ekoteologi dalam Aksi, Mahasiswa KKN UINSU Ajak Masyarakat Desa Gajah Kelola Sampah
mataSMScom. KARO — Kepedulian terhadap lingkungan tidak cukup hanya disampaikan melalui imbauan untuk membuang sampah pada tempatnya. Lebih dari itu, diperlukan kebiasaan memilah, mengolah, dan memanfaatkan kembali sampah agar tidak berakhir menjadi persoalan lingkungan.
Semangat tersebut menjadi bagian dari program kerja Ekoteologi yang dilaksanakan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU) di Desa Gajah, Kabupaten Karo. Kegiatan ini mengajak anak-anak dan masyarakat untuk melihat sampah bukan hanya sebagai sesuatu yang harus dibuang, tetapi juga sebagai sumber daya yang dapat dikelola.
Rangkaian program ini meliputi edukasi pemilahan sampah, permainan interaktif bersama siswa, aksi gotong royong, pembuatan tong sampah, pengolahan sampah organik menjadi kompos, hingga pemanfaatan tutup botol bekas menjadi gantungan kunci.
Kegiatan tersebut merupakan wujud nyata KKN UINSU 2026 dengan tema “UINSU Berdampak: Penguatan Desa MESRA (Desa, Moderasi, Ekoteologi, dan Sejahtera untuk Pengentasan Kemiskinan Ekstrem dan Stunting).”
Ekoteologi Lebih dari Sekadar Menjaga Kebersihan
Dalam program ini, ekoteologi tidak hanya dimaknai sebagai upaya menjaga lingkungan agar tetap bersih, melainkan sebagai bentuk tanggung jawab moral manusia dalam merawat alam. Nilai tersebut diterjemahkan mahasiswa ke dalam aksi nyata yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, dimulai dari persoalan sampah yang sering dianggap selesai setelah dibuang.
Padahal, sampah memiliki karakteristik yang beragam. Ada jenis sampah yang dapat terurai secara alami, ada pula yang membutuhkan waktu lama namun masih bisa dimanfaatkan kembali. Oleh karena itu, mahasiswa KKN UINSU mengenalkan pentingnya pemilahan sampah sebagai langkah awal membangun kepedulian lingkungan.
Edukasi Interaktif dan Praktik Lapangan
Edukasi pemilahan sampah pertama-tama disasarkan kepada siswa sekolah dasar melalui metode interaktif. Siswa dikenalkan dengan perbedaan sampah organik dan anorganik. Agar tidak monoton, materi diselingi dengan permainan kelompok, di mana siswa mengelompokkan berbagai gambar sampah sesuai jenisnya.
Setelah mendapat pembekalan materi, kegiatan dilanjutkan dengan aksi gotong royong membersihkan area sekolah. Selain menanamkan jiwa gotong royong, mahasiswa bersama siswa juga membuat tong sampah dari wadah bekas yang diberi label warna untuk mempermudah pemilahan.
Inovasi Pengolahan Organik dan Anorganik
Tidak berhenti pada pemilahan, mahasiswa juga membimbing masyarakat mengolah sampah organik menjadi kompos yang bermanfaat bagi lingkungan sekitar. Pembuatan kompos ini menjadi solusi sederhana untuk mengurangi timbunan sampah organik sekaligus menghasilkan produk bernutrisi bagi tanaman.
Sementara itu, untuk sampah anorganik, mahasiswa bersama warga Desa Gajah berkreasi mengubah tutup botol bekas menjadi gantungan kunci fungsional. Kegiatan ini membuktikan bahwa pengelolaan sampah tidak selalu rumit; dengan kreativitas, barang yang tadinya tidak bernilai dapat disulap menjadi produk berguna.
Menumbuhkan Kebiasaan Peduli Lingkungan
Melalui rangkaian program Ekoteologi ini, mahasiswa KKN UINSU berharap kesadaran masyarakat Desa Gajah dapat terus tumbuh secara berkelanjutan. Perubahan besar tidak harus dimulai dari hal yang rumit, melainkan dari kebiasaan-kebiasaan kecil seperti memilah sampah, membuat kompos, dan mendaur ulang barang bekas secara konsisten.
Pada akhirnya, ekoteologi mengajarkan bahwa menjaga alam adalah wujud nyata tanggung jawab manusia terhadap tempat di mana ia hidup.





