Penulis : Sutrisno Supardi
Pilkada ini Merupakan sebuah ajang Kompetisi hanya sesaat, yang kemudian menjadi Seperti Rahim, yang akanĀ Melahirkan suatu struktur yang akan menjadi penguasa, di suatu Daerah.
Pada umumnya instrumennya diatur oleh undang undang, dalam posisi ini. Bupati adalah unsur penyelenggara di Daerah, menjalankan Roda Kepemerintahan untuk menyelenggarakan urusan yang menjadi kewenangan didaerah itu sendiri.

Bupati dibantu oleh perangkat daerah lainnya seperti ASN maupun Non ASN yang nantinya akan melaksanakan undang undang dengan perkembangan yang begitu maju dalam sistem bernegara, lalu mendongkrak banyak regulasi yang diciptakannya, maka dari itu, diperlukannya Penyelenggara Negara yang memahami Regulasi yang sudah diatur didalam Undang Undang, nah dengan melihat hal itu, dimana para kandidat yang mencalonkan diri sebagai Bupati, harus mampu dan mengerti serta memahami Regulasi, sehingga nanti melahirkan penyelenggaraan pemerintah Daerah tidak seperti yang sudah-sudah.
Namun disaat pilkada, sampai pada PSU saat ini Ada keunikan dari yang Sebelumnya, dalam kompetisi calon Bupati Kali ini, tiba-tiba saja banyak yang mengumbar cacian, makian, dan hinaan. ini ada apa ?
Apa hubungannya antara sesama pendukung ? Apakah mau menang dengan gaya cacian atau, fitnah sana sini ? “Memangnya kalau ente duduk jadi Bupati instrumen itukah yang jadi tugasmu ?.

AYO RAKYAT HARUS JELI DALAM BERPIKIR
Seharusnya ada kecerdasan yang dibangun oleh para pendukung Calon Bupati. untuk membedakan antara, apa yang diinginkan oleh Calon Bupati Nantinya, sehingga para Pendukung Kandidat bisa Mengambil hati rakyat, agar tidak terlalu menunjukan Pikiran kita yang sempit, jangan Kita berpikir seperti orang yang Rendah SDMnya, begitu juga dengan cara mengambil simpati masyarakat. dengan menyatakan bahwa “kami calon Bupati yang tidak PAMBALEKOS, dan AT-FM yang Pambalekos, Seharusnya tidak boleh dilontarkan kalimat tersebut didepan para masyarakat, itu sudah pasti, Masyarakat akan menertawakannya, Bahasa yang tidak bisa dijadikan contoh untuk dijadikan Seorang calon Pemimpin.
Nah, Pola yang dimainkan model seperti itu sudah jelas ada kecenderungan haus akan kekuasaan, sehingga masyarakat bisa menilai, mana yang layak jadi pemimpin dan mana yang tidak bisa memimpin Daerah. sehingga masyarakat yang tidak mengerti apa-apa. sudah pasti akan Mengatakan. Ini daerah jika dia yang jadi Bupati, akan dia apakan daerah ini.
Regulasi yang selama ini di bangun akan secara terus menerus berjalan dengan baik. yang tidak ada saling menghancurkan. satu sama lainnya,
Soal terpilih atau tidak, itu Tuhan yang menentukannya. ketetapan hati itu adalah bentuk dari keimanan kita sebagai orang yang beriman, baik buruk itu datangnya dari diri kita sendiri, kini yang diinginkan masyarakat adalah mengedukasi masyarakat Kabupaten Banggai. dan dengan kecerdasan berpikir akan Membawah perubahan Untuk Kabupaten Banggai kedepannya, bukan dengan membangun aksara memfitnah, mencaci, menghina dan menceritakan kepada Masyarakat seolah olah dirinya yang lebih baik.
Bahasa seperti itu. Secara keilmuan tidak didapati difakultas manapun. Saya berharap setelah selesainya PSU Ini seluruh masyarakat Kabupaten Banggai. Bisa bergandengan tangan untuk bergembira ria, disaat memilih semua Masyarakat Kabupaten Banggai, tidak ada terintimidasi dari pihak manapun. kemudian, dengan banyaknya persoalan yang terjadi saya berharap agar seluruh Masyarakat Kabupaten Banggai bisa mengambil Pelajaran terbaik, untuk membuka cakrawala berpikir kita.
Kembali lagi pada pertanyaan,
Siapakah yang pantas jadi pemimpin daerah ini ? jawabannya ada pada suara Masyarakat ditiap TPS. jika itu AMIRUDIN TAMOREKA dan FURQANUDDIN MASULILI yang dipilih masyarakat, maka hormati itu dialah Bupati Yang terbaik Untuk Kabupaten Banggai Yang kita Cintai ini. (Dhedot)







